Terbaring lesu tubuhmu di pinggir jalan raya Dipandang jelek dari ekor mata Diseranah mereka yang berlalu-lalang Yang harapannya telah lama mati telah lama hilang Terhadapmu, gelandang tua. Ada genangan Yang tertiris dari mata Ada tanya Yang kering keringatnya Merungkai jawapan tentang dirimu Duhai gelandang tua , Apa kisahmu? Kulihat engkau selalu berjalan Berkaki ayam dalam khayalan Meneguk air hamis yang menghujani jiwamu Dengan satu kebebasan dalam ruang realiti yang sempit.
Siapa dirimu sebelumnya? Adakah engkau seorang ayah yang pernah membanting tulang siang malam, Untuk menyara anak-anakmu Ketika mereka masih menghargaimu? Atau adakah engkau cebis-cebis sampah yang dari lama dulu mencemarkan setiap insan yang hadir dalam hidupmu? Setiap kali aku lalu di situ, Cahaya pagi masih lagi menyinar bumi Dan aku lihat engkau masih beradu Lalu ke arahnya aku berdoa Semoga peraduanmu abadi Melenyapkan penyesalan, Melenyapkan penyiksaan, yang berumah di jiwamu. Duhai gelandang tua, Beradulah selena-lenanya Akan kukenang dirimu Dalam puisi-puisi rekaanku Tentang ceritera hidupmu.
Beringin tua itu, Berdekad sudah berdiri teguh Dedaunannya telah lama gugur semua Dahannya rapuh dipatah duga cuaca Namun tiada tertunduk ia menyembah bumi, Walau direnggut darinya harapan untuk terus menghijau Memutikkan bunga dan bebuah manis Di bawah langit ini, Tetap ia berdiri Ditopang jutaan akar berbudi Yang terkambus dari cahaya Namun membara juang hidupnya. Terletak di dahannya sebuah pengharapan Yang hanya tinggal satu bersangkutan Harapan dititip akar-akar bumi Dipesan agar terus tabah berdiri.
Dilepas pandangnya ke sebuah kejauhan Segalanya kabur berkabus pandangan Tidak terlihat hari muka nan bercahaya Sedarlah ia akan dirinya, Cuma beringin tua yang menanti diganti teduhan-teduhan batu beralaf baru yang lebih dirai Perginya ia tidak akan ditangisi Perginya ia tidak akan dikenangi! Maka terbunuhlah beringin pada hari itu, Bersama kegemilangan hari-hari lalu Terbunuhlah beringin pada hari itu Di tangan-tangan penentu itu.
Melimpahnya engkau dari awanan gebu, Ada waktunya berlagu romantis Memudik kenangan ke hilir ingatan Hanyutkan aku dalam lubuk kerinduan. Pada waktu-waktu rusuhan, Berapi semangatmu dalam kedinginan Manusia berlari mencari teduhan Pepohon redha menjadi panahan. Sesungguhnya engkau itu benar bersungguh, Dengan peri berahimu Medan ini bukan wayang-wayangan Ada yang menyelami indah pekerti Ada yang cuma basah dihujani. Saratnya engkau dengan estetika Menyerlah citra ciptaan milik-Nya Bersyukur aku dengan budimu Membasahi bumi menyubur tanah Membasahi jiwa menyubur rasa.
Malam ini, Aku datang menjengukmu Dengan jiwa yang sarat rasa Dengan mata ditabiri kaca Menunggu pecah bila waktunya. Berhari-hari kutunggu labuhnya senja Menanti waktu untuk berbicara Namun tetap saja engkau bersembunyi Hanyutlah aku dalam dini sepi. Bulan, Berkelana dirimu tidak mungkin lama Namun sinarmu tetap kurindu Kembalilah Terangi malam gelita dengan cahaya jelita Suluhkan ia ke langit jiwaku. Pulanglah, Di balik teduhan batu 'kan tunggu dirimu.
Berhembus dirimu bayu utara, Tiap rembang hangat siang Tiap remang malam beku Terbias siksa-mu pada pesan merindu Disiat rakus hasrat nan satu. Aku jua berperang di sini Melerai kelopak mawar pengharapan Menghitung perang jiwa tak bersisa satu Kalbu dan akal tetap enggan menyatu. Engkau bayu utara Sapaanmu kusambut mesra dalam jaga Namun kenangilah duhai sang bayu, Jangan diturut darah mudamu! Serahkan saja pada genggam-Nya Pemilik segala cinta dan cita Andai tertulis tinta bersatu Gemerlap langit bintang beribu Tidak 'kan sirna sinar matamu.
Mekarnya engkau sebagai perawan Bersama nian sebuah keharuman Datangnya dari murni pekerti Datangnya dari ikhlas nurani Duhai sahabat, selalu kurenungkan ke dalam diri Mengapa segala keluh sudi saja engkau dengari Mengapa di setiap khilaf selalu wujud ruang maaf Mengapa di setiap luka segera saja engkau merawatnya Lelah aku mencipta tanya Menyoal budi mencecah mega Tunduklah aku memandang bumi Akur kepada takdir ilahi, Bahawasanya tak akan bertemu kita sebagai sahabat, tanpa tersiratnya berbagai hikmat. Bahawasanya tak akan tertulis sajak hari lahir ini Kalau bukan untuk dirimu, sahabat sejati. Tetap mekarlah engkau sahabatku, Menjadi kesuma menyebarkan harum Kudoakan segala cita menjadi nyata Genggaman impian 'kan menjadi kenyataan. Mekarlah sahabatku menjadi pencinta, Semoga wangilah dalam cinta-Nya.